SURABAYA
– Ketua tim pemenangan pasangan calon walikota Risma-Whisnu bernama Syaifudin
yang ditemui di Posko Pemenangan, sangat yakin akan meraih kemenangan telak
sebesar 93% mengalahkan Jokowi di kota Solo. (24/10)
Komisi Pemilihan Umum
(KPU) telah menetapkan tanggal 9 Desember 2015 sebagai hari pelaksanaan Pilkada
Serentak Terintegrasi. Meskipun penetapan tanggal pemilu sedikit menemui
masalah, namun KPU sudah menemukan titik terang sehingga tanggal pelaksanaan
pemilu serentak sudah dapat diinformasikan kepada masyarakat. Pemilu kepala
daerah serentak ini baru pertama kalinya digelar di Indonesia. Pilkada serentak
diadakan di lebih dari 260 daerah dengan total lebih dari 850 pasangan calon dari
seluruh penjuru Indonesia.
Peraturan pelaksanaan
pemilu dan peraturan pemasangan alat peraga kampanye dirombak untuk mensukseskan
pemilukada tahun ini. Tak heran jika ditemui banner/spanduk dari kedua pasangan
calon walikota Surabaya yang saling berdampingan. Desain dan materi alat peraga
kampanye (APK) dibuat dan dibiayai oleh pasangan calon serta tim kampanye
masing-masing pasangan, namun untuk pembuatan dan pemasangan APK dibiayai oleh
KPU.
Ketua Panwas Kota
Surabaya, Wahyu Hariadi mengatakan berdasarkan PKPU No 7 Tahun 2015 tentang
Kampanye, seluruh alat perga kampanye yang meliputi, baliho, spanduk,
umbul-umbul dan videotron serta bahan kampanye akan dibuat oleh KPU. (26/09)
Pemilihan lokasi
pemasangan APK juga sepenuhnya diatur oleh pemerintah melalui Badan Kesatuan
Bangsa dan Lingkungan Masyarakat (Bakesbanglinmas) Surabaya, KPU, dan Panwaslu.
APK yang tersebar di seluruh penjuru kota Surabaya dirasa kurang sebab aturan
main dari KPU hanya membatasi 20 buah spanduk dan 5 baliho untuk satu pasangan
per kelurahan. Pantas saja euphoria pemilukada
tahun ini dirasa kurang oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Meskipun
dengan adanya regulasi pemasangan APK ini berdampak mengurangi anggaran
kampanye pasangan calon, namun untuk mewujudkan Pemilukada Terintegrasi,
kurangnya informasi mengenai pasangan calon berindikasi dapat menaikan tingkat abstain pada pemilu tahun ini.
Dengan adanya regulasi
baru, tim pemenangan Risma-Whisnu berusaha mengerahkan semua sumber daya untuk
mempersiapkan pemenangan. Digunakanlah tagline
“Iki Suroboyo” dan “Now and Then” sebagai tema desain APK.
Menggunakan banner
berwarna merah, pasangan Risma-Whisnu terang-terangan menggunakan warna itu
untuk mengangkat simbol partai pengusung yaitu PDI Perjuangan. Menurut Didik
Prasetiyono, tagline “Iki Suroboyo”
memiliki filosofi bahwa ditanah ini, Surabaya, seluruh warga menggantungkan
harapan dan perjuangan hidupnya kearah yang lebih baik.
Hal menarik ketika Sekretaris
DPC PDI Perjuangan Saifudin Zuhri ditanyai mengenai mengapa
memakai slogan “Iki
Suroboyo”. Usut punya usut, tagline “Iki
Suroboyo” ditujukan untuk meledek calon sebelah yang notabene bukan asli dari
Surabaya.
“Kan calon kami sudah
diketahui oleh warga Kota Surabaya dan tidak asing di Kota Surabaya, makannya
kita lebih menonjolkan kata “Iki Suroboyo” karena kaitannya ‘calonnya’ (Rasiyo:
red) itu bukan orang Surabaya, dia orang provinsi” kata Saifudin secara
tersirat.
Selain itu calon inkumben
ini sudah diketaui oleh warga Surabaya, tidak perlu ada foto dan kata neko-neko. “Tentunya dengan banner tanpa
gambar dan hanya kata-kata, orang akan bertanya-tanya, siapa sih iki suroboyo
ini, oh Bu Risma, maka slogan iki suroboyo akan mudah masuk didalam hati dan
pikiran masyarakat.” Imbuh Saifudin sambil tertawa kecil.
Slogan “Now and Then”
memiliki tujuan untuk mengingatkan masyarakat akan kesuksesan Risma-Whisnu
dalam memimpin Surabaya dalam 5 tahun terakhir dengan pembangunan berbagai
infrastruktur seperti taman, selokan, serta pengelolaan saluran air untuk
menghindari banjir diyakini cukup untuk meyakinkan masyarakat Surabaya.
Kepercayaan rakyat diyakini akan menjadi modal utama kemenangan Risma-Whisnu di
berbagai segmen pemilih.
Lain daripada yang
lain, Kampanye Risma-Whisnu tidak akan menggunakan baliho-spanduk seperti
kampanye pada umumnya, lebih out of the box
dengan “crowd sourcing” yaitu
melibatkan ide-ide terbuka dari publik lewat sosial media maupun gerakan
kelompok yang bebas. Selain itu pasangan Risma-Whisnu akan mengisi hari-hari
sebelum 5 Desember 2015 dengan blusukan bertemu dengan rakyat. Hal ini dirasa
lebih nyata dengan menyampaikan dan mensosialisasikan secara langsung apa yang
akan dilakukan pasangan calon nomer 2 pada 5 tahun kedepan.
Saifudin selaku ketua
tim pemenangan yakin masyarakat Surabaya tidak lagi memerlukan event-event
seperti konser. “Daripada menggelar acara seperti konser yang tidak jelas
penyampaian informasinya, Bu Risma dan Pak Whisnu lebih kita arahkan untuk
mendengar apa yang dirasa dan diharapkan oleh masyarakat sehingga akan
dirumuskan menjadi kebijakan ketika calon kita melanjutkan kepemimpinan di kota
Surabaya” Katanya.
Kampanye yang diusung
partai merah ini memiliki garis besar untuk menyadarkan masyarakat untuk memilih
walikota yang tepat yang asli berasal dari Surabaya. Selain itu untuk
mengingatkan masyarakat akan kesuksesan Risma-Whisnu dalam memimpin Surabaya
dalam 5 tahun terakhir dengan pembangunan berbagai infrastruktur. Upaya kinerja
selama 5 tahun dan kesiapan memimpin kembali Surabaya menjadi tujuan pemenangan
calon dari partai PDI Perjuangan ini.




08.59
Sora

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar